Tampilkan postingan dengan label Tanah Abang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah Abang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Mei 2019

Terjadi Kericuhan, Penumpang Kereta Dilarang Turun di Stasiun Tanah Abang

Suasana Stasiun Tanah Abang. ( Foto: BeritaSatu Photo/Emral Firdyansah )

Para penumpang dan calon penumpang kereta rel listrik (KRL) commuter line hari ini dilarang untuk tidak keluar stasiun di akses menuju Jatibaru dan Petamburan akibat adanya kericuhan. Hal tersebut disampaikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ).

Sejumlah petugas KCJ dan petugas keamanan di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (22/5/2019), memperingatkan para penumpang kereta dengan berteriak dan menggunakan pengeras suara untuk beralih ke stasiun lain yang lebih aman.

"Akses yang dibuka hanya di utara stasiun, tetapi kami peringatan untuk tetap beralih ke stasiun lain untuk menghindari kerusuhan di luar sana," ujar petugas stasiun melalui pengeras suara.

Menurut hasil pantauan, sejumlah calon penumpang dari kedua akses yaitu Jatibaru dan Petamburan berlarian di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) masuk menuju ke stasiun sambil menutupi mata mereka karena terdampak gas air mata.

"Kerusuhan sudah semakin dekat stasiun," ujar salah seorang penumpang sambil menutup matanya yang terdampak gas air mata.

Sementara itu, dari Stasiun Tanah Abang tampak kepulan asap hitam di sejumlah titik di kawasan Cideng.



Sumber: AKURAT.CO

Senin, 21 Januari 2019

Wow! Preman Tanah Abang Berpenghasilan Rp25 Juta Per Hari Ujar Ombudsman

Suasana di Skybridge Tanah Abang sedang dalam tahap uji coba. | AKURAT.CO/Sopian

Aksi Kerusuhan yang terjadi dikawasan Tanah Abang pada Kamis (17/1/2019) diduga terjadi karena preman kehilangan sumber uang. Hal tesebut menurut dugaan Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya.

Teguh Nugroho, Selaku ketua Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya menjelaskan, para preman di Tanah Abang kehilangan mata pencahariannya setelah Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) atau skybridge beroperasi. Pasalnya, sebelum JPM dibangun, para pedagang yang melapak di Jalan Jatibaru Raya menyetor sejumlah uang ke preman. 

"Kan preman ada potensi kehilangan pendapatan dari pedagang ini," kata Teguh ketika dihubungi Senin (21/1/2019).

Menurut Teguh, pendapatan preman semakin banyak, ketika pemprov menyediakan tenda untuk berjualan kepada PKL. Terlebih, banyak PKL yang berasal dari luar kota ikut-ikutan jualan di jalan itu.

"Nah kemudian muncul pedagang baru di Jalan Jatibaru yang kemudian mengklaim sebagai PKL Jati Baru. Padahal waktu kami verifikasi orang - orang ini enggak ada," tambahnya.

Teguh kemudian merinci, kini sebanyak 446 pedagang melapak di JPM. Sementara pedagang yang direlokasi ke Blok F sebanyak 50 orang. Berdasarkan data itu, lanjut Teguh, para preman yang biasanya meraup uang hingga jutaan rupiah, kini tidak memiliki penghasilan. Mengingat, para pedagang yang direlokasi kini membayar uang retribusi ke PD Sarana Jaya. 

"Mereka (PKL ke preman) bayarnya Rp50 ribu satu orang per hari (sebelum direlokasi).  500 (pedagang) dikali 50 ribu orang saja sudah Rp25 juta per hari loh," bebernya.

Teguh juga menduga pedagang baru yang tidak direlokasi ke JPM dan kini menempati trotoar di Jalan Jatibaru Raya masih rutin membayar kepada preman. Namun, untuk kisaran uang yang diberikan PKL ke preman belum diketahui.

"Nah update data terbaru kami belum tahu lagi, tapi yang lama - lama itu. Bisa dibayangkan jadi sekarang ada penambahan dari warga yang tidak mau masuk ke Blok F saja ada 149 orang," pungkasnya.


Sumber: AKURAT.CO