Tampilkan postingan dengan label Arab Saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arab Saudi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2019

Arab Saudi Akan Eksekusi Tiga Cendekiawan Muslim Setelah Ramadan

Ali al-Omari, Salman al-Odah dan Awad al-Qarni akan dieksekusi setelah Ramadan. 
| Foto: Baaz.com

Tiga cendekiawan muslim moderat yang saat ini ditahan atas tuduhan "terorisme" akan dieksekusi oleh Kerajaan Arab Saudi. Eksekusi tersebut akan dilaksanakan setelah Ramadan berakhir.

Ketiga cendekiawan muslim tersebut adalah Awad Al-Qarni yang merupakan seorang pengkhotbah Sunni, akademisi, dan penulis; Ali Al-Omari yang merupakan seorang penyiar populer; dan Salman Al-Odah yang merupakan akademisi internasional yang dikenal akan pandangannya yang progresif.

Salman Al-Odah ditangkap pada tahun 2017 akibat menulis tweet berisi doa agar Arab Saudi dapat memperbaiki hubungannya dengan Qatar. Penangkapannya memicu reaksi dari para pendukungnya yang menggaungkan tagar #freesalmanodah.

Ada dua sumber dari internal otoritas Arab Saudi yang mengatakan bahwa saat ini ketiganya tengah menunggu proses persidangan di Pengadilan Khusus Kriminal di Riyadh. Sidang ditetapkan untuk 1 Mei, tetapi ditunda tanpa menetapkan tanggal lebih lanjut.

Sementara, sumber pemerintah Arab Saudi lainnya mengatakan eksekusi 37 warga Saudi, sebagian besar aktivis Syiah, atas tuduhan terorisme pada bulan April digunakan sebagai bahan percobaan untuk melihat seberapa kuat kecaman internasional itu.

"Ketika mereka menemukan ada reaksi internasional yang sangat kecil, khususnya di tingkat pemerintahan dan kepala negara, mereka memutuskan untuk melanjutkan rencana mereka untuk mengeksekusi tokoh-tokoh yang menonjol," kata sumber anonim tersebut, dilansir dari laman Middle East Eye, Kamis (23/5/2019).

Kerajaan Arab Saudi akan melakukan eksekusi bertepatan dengan meningkatnya tensi hubungan Amerika Serikat dengan Iran.

“Mereka didorong untuk melakukannya, terutama dengan ketegangan di Teluk saat ini. Washington ingin menyenangkan Arab Saudi saat ini. Pemerintah Arab Saudi menghitung bahwa ini memungkinkan mereka untuk lolos dari kecaman internasional, ” tambah sumber tersebut.



Sumber: AKURAT.CO

Jumat, 05 April 2019

Reema Juffali, Pembalap Wanita Arab Saudi Pertama Siap Tampil di F4

Reema Juffali memulai debutnya sebagai pembalap dalam kejuaraan TRD 86 Cup di Dubai, Uni Emirat Arab, Oktober 2018. | THE NATIONAL

Reema Juffali, pembalap perempuan pertama Arab Saudi, akan melakukan debutnya dalam kompetisi F4 di Sirkuit Brands Hatch, Kent, Inggris, akhir pekan ini. Juffali akan mengendarai mobilnya di bawah bendera juara bertahan, Double R Racing, bersama Louis Foster dan Sebastian Alvarez.

Dilansir dari BBC, Juffali, 27 tahun, akan memulai balapan sebagai pendatang baru di kategori satu pengendara (single-seater). Sebelumnya, ia berkiprah di balapan dua pengendara (double-seater) pada TRD 86 Cup dan MRF Challenge.

"Brands Hatch adalah jantungnya olahraga balap," kata Juffali. "Ini akan menjadi tahun yang sulit dalam kejuaraan kompetitif. Tapi saya siap untuk tantangan."

Pembalap kelahiran Jeddah, Arab Saudi, itu memulai debut balapnya pada Oktober 2018 dalam perhelatan TRD 86 Cup di Dubai, Uni Emirat Arab. Dalam ajang itu, ia meraih posisi kedua.

"Ini adalah hal besar yang saya lakukan dan (sekaligus) mewakili negara saya," ucap Juffali.

Kiprah Juffali dalam balapan ini juga seiring dengan dihentikannya larangan bagi wanita Arab Saudi untuk berkendara hingga Juni 2018. Pencabutan aturan memberikan kesempatan bagi pembalap wanita untuk mengajukan permohonan lisensi berkendara.



Sumber: AKURAT.CO

Penyidik Yakin Ada Oven Khusus untuk Bakar Jenazah Khashoggi, Karena Tak Kunjung Ditemukan

Tungku di taman tempat tinggal konsulat jenderal Saudi di Istanbul | Al Jazeera

Jenazah jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, yang dibunuh di Konsulat Arab Saudi, hingga hari ini belum ditemukan. Penyidik menduga kuat bahwa jenazah Khashoggi dibakar di sebuah oven khusus yang ada di rumah Konsulat Arab Saudi.

Rekaman percakapan yang dimiliki tim penyidik mengungkap keberadaan oven tersebut. Dalam rekaman tersebut, salah satu tukang yang mengerjakan pembangunan oven mengakui adanya oven yang cukup besar di rumah Konsul Arab Saudi.

"Pertama, ukuran ovennya besar, cukup untuk memasak seorang pria, tidak hanya seekor domba. Kedua, mereka ingin mencapai suhu 1.000-1.100 celsius. Suhu oven normal hanya mencapai 600 Celcius," tutur pria tersebut dalam rekaman, dilansir dari laman Al Jazeera, Kamis (4/4/2019).

Dalam laporan investigasi yang dikutip dari laman Al Jazeera, terdapat sebuah foto oven tersebut yang kabarnya diambil secara diam-diam oleh orang yang membangunnya.

"Salah satu spesifikasinya adalah oven tersebut diminta untuk dibuat dari batu basal bukan tanah liat. Batu basal dapat menahan suhu yang sangat tinggi, sedangkan tanah liat akan rusak pada suhu tertentu. Batu basal sangat kuat," lanjut pria tersebut dalam rekaman.

"Kemudian saat kami akan memasang pipa gas di oven tersebut, mereka mengatakan, 'Tidak, ini tidak cukup baik. Ini terlalu kecil untuk oven sebesar itu', barulah kami memasang pipa dengan ukuran dua kali lipat dari sebelumnya agar sesuai dengan oven yang besar itu sesuai permintaan," lanjutnya lagi.

Dugaan ini didukung dengan adanya rekaman CCTV yang menunjukkan seorang pria masuk ke rumah Konsulat Arab Saudi dengan membawa koper besar di hari saat Khasoggi hilang.

Hasil investigasi menunjukkan oven tersebut digunakan selama tiga hari setelah koper tersebut diantar. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pembunuhan Khashoggi telah direncanakan sejak lama dan dengan persiapan matang.

Jamal Khashoggi adalah jurnalis Arab Saudi yang bekerja untuk Washington Post. Ia dibunuh oleh tim elite Arab Saudi pada 2 Oktober 2018 di gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul. Bukti-bukti kuat mengarah pada nama Pangeran Mohammed Bin Salman selaku otak dari pembunuhan tersebut, namun tuduhan itu dibantah oleh pihak kerajaan.




Sumber: AKURAT.CO