Tampilkan postingan dengan label Petani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2019

Palsukan Ijazah Demi Ambisi Jadi Kepala Desa

Ilustrasi - Hakim | AKURAT.CO/Candra Nawa

Seorang reje atau oknum kepala desa berinisial AM (42), diamankan Tim Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Aceh Tengah di Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Kamis (14/3/2019).

Inspektur Polisi Satu  (Iptu) Agus Riwayanto Diputra selaku Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Aceh Tengah mengatakan AM yang merupakan petani itu ditangkap atas kasus dugaan memalsukan ijazah.

“Menggunakan ijazah palsu saat mengikuti pencalonan reje gampong,” ujar Agus, Jumat (15/3/2019).

Kasus ini berawal ketika AM mendaftarkan diri mengikuti pencalonan kepala desa pada 26 April 2018. Setelah melewati tahap administrasi dan pemilihan, AM ditetapkan sebagai kepala desa terpilih yang kemudian dilantik menjadi kepala desa 06 Agustus 2018.

Beberapa hari setelah dilantik, sejumlah warga kemudian membuat laporan ke Polsek Silih Nara yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan serta mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi.

Iptu Agus menjelaskan mendapatkan dua alat bukri kuat, di antaranya ketidaksesuaian nomor registrasi ijazah dan keterangan dari para saksi. Tim lalu melakukan penangkapan terhadap AM.

“Kita sudah melakukan tindak lanjut dari gelar perkara, setelah itu kita lengkapi dengan memanggil saksi-saksi, termasuk saksi ahli. Jadi sudah cukup buktinya untuk dinaikan status AM menjadi tersangka,” jelasnya.

Iptu Agus menyampaikan ijazah yang digunakan AM diduga dipalsukan secara menyeluruh. Hal ini berdasarkan keterangan pihak sekolah yang merasa tidak pernah mengeluarkan ijazah tersebut atas nama AM.

Kepada petugas tersangka mengaku jika ijazah yang dia gunakan itu didapatkan dari salah seorang warga dengan hanya membayar uang senilai Rp200 ribu untuk administrasinya.

“Ijazah yang dipalsukan ijazah Paket B atau untuk SMP. Karena reje inikan harus minimal memiliki ijazah SMP atau Paket B,” kata Iptu Agus.

AM disangkakan melanggar Pasal 68 ayat (2) jo Pasal 69 ayat (1) ke (2) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

“Ancaman hukuman 5 tahun penjara,” kata Iptu Agus.



Sumber: AKURAT.CO

Senin, 21 Januari 2019

Petani Klaten: Kami Tak Nangis Karena Beras Impor, Prabowo Diminta Tidak Ngomong Sembarangan Lagi

Gerakan Petani Klaten Bermartabat aksi di Alun-Alun Kabupaten Klaten, Jawa Tengah | AKURAT.CO/Wijayanti

Ratusan petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Klaten Bermartabat  melakukan aksi demonstrasi di Alun-Alun Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Minggu (20/1/2019). Mereka memprotes pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyebut petani Klaten menangis karena kebanjiran beras impor saat panen.

Mereka melakukan long march dari Taman Lampion - Jalan Pemuda - simpang empat Plaza Klaten. Kemudian mereka juga membentangkan spanduk, di antaranya bertuliskan Ojo Waton Muni, Klaten Gemah Ripah Loh Jinawi, Prabowo Asbun, Tolak Prabowo di Klaten.

Juwandi, koordinator aksi mengatakan pernyataan Prabowo Subianto yang disampaikan dalam pidato di Jakarta Convention Center pada Senin (14/1/2019) lalu, tidak benar.

"Kami tidak menangis karena beras impor. Kenapa, karena di Klaten tidak ada yang namanya beras impor. Klaten selama ini merupakan daerah penghasil beras nasional, jadi tidak mungkin ada beras impor masuk Klaten," katanya.

Menurutnya pemerintah membantu menyerap beras hasil panenan petani sehingga harga di pasaran tidak anjlok dan petani tidak merugi.

"Tahun lalu Klaten surplus beras sebanyak 131.000 ton, tapi harga tidak anjlok karena pemerintah membantu menyerap beras. Kalau mau bicara sebaiknya sesuai fakta jangan asal berbicara untuk kepentingan politik karena itu akan menyakiti petani," tambahnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Suroto. Ia mengaku  tak pernah melihat beras impor masuk Kabupaten Klaten. Pasalnya hasil petani di Kabupaten Klaten setiap tahun melimpah dan bahkan dijual ke daerah lain seperti Jakarta, Surabaya, hingga luar Jawa.

"Tolong kalau ngomong jangan sembarangan, apalagi demi politik. Kami, petani sudah meneteskan peluh dan keringat untuk menggarap sawah dan menghasilkan beras berkualitas," ujar Ketua Gapoktan Ngupadi Bogo, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara.

Suroto berharap dengan adanya aksi ini mampu menambah semangat petani di Klaten untuk menghasilkan beras yang berkualitas. Terlebih lagi selama ini Kecamatan Delanggu dikenal sebagai daerah lumbung pangan dengan beras rojolelenya. Sehingga petani diharapkan tidak termakan isu yang dilancarkan. 

Dalam pidatonya, Prabowo Subianto menyoroti hal yang menurutnya menjadi persoalan bangsa. Antara lain, dia menyoroti kisah guru di Pekalongan yang gantung diri.

"Selama beberapa tahun terakhir ini, saya mendapat laporan ada belasan cerita tragis seperti Hardi ini. Ada kisah seorang guru di Pekalongan gantung diri. Terakhir tanggal 4 Januari yang lalu, Ibu Sudarsih di Desa Watusigar Gunungkidul gantung diri. Ini kisah-kisah yang masuk berita, yang tidak masuk berita mungkin lebih banyak lagi," katanya.

Kemudian kondisi petani di Klaten yang disebutnya banyak yang bersedih.

"Saya juga baru datang dari Klaten. Di situ petani-petani beras bersedih, karena saat mereka panen beberapa bulan yang lalu, banjir beras dari luar negeri. Saya juga baru-baru ini juga dari Jawa Timur, di sana banyak petani tebu yang bersedih karena saat mereka panen, banjir gula dari luar negeri."

Sementara itu, kata dia, banyak emak-emak mengeluh harga-harga sudah tidak terkendali dan tidak terjangkau. Harga telur, harga daging, harga beras, sudah sangat berat dirasakan oleh rakyat kita. "Bagaimana bisa, di republik ini harga gula tiga kali lebih mahal dari harga dunia," katanya.


Sumber: AKURAT.CO